Rabu, 29 April 2015

PERSON CENTERED THERAPY

III. PERSON CENTERED THERAPY


A.    Konsep terapi
Terapi terpusat pada pribadi didasarkan pada falsafah sifat naluri manusia yang menegaskan adanya usaha untuk beraktualisasi diri. Selanjutnya pandangan Rogers tenang sifat naluri manusia adalah fenomenologis; yaitu kita membentuk diri sendiri sesuai dengan persepsi kita tentang realitas. Kita dimotifikasi untuk mengaktualisasi diri kita sendiri dalam lingkup persepsi kita akan realitas.
Teori Rogers bertumpu pada suatu asumsi bahwa klien bisa memahami faktor dalam hidup mereka yang menjadikan mereka tidak bahagia. Mereka juga memiliki kapasitas untuk mengarahkan diri mereka sendiri dan mengadakan perubahan pribadi yang konstruktif.
Pendekatan terpusat pada pribadi menekankan hubungan pribadi antara klien dan terapis; sikap terapis lebih bersikap kritis dibandingkan dengan pengetahuan, teori atau teknik. Klien didorong untuk menggunakan hubungan ini untuk menghilangkan belenggu yang menghalangi potensi pertumbuhannya dan menjadi lebih seperti orang yang diinginkannya.
Pendekatan ini memberikan pertanggungjawaban utama pada pengarahan terapi pada diri klien. Klien dikonfrontasikan pada kesempatan untuk menentukan sendiri dan berkompromi dengan kekuatan dirinya sendiri. Sasaran umum terapi lalu menjadi lebih terbuka terhadap pengalaman, terhadap kemungkinan diraihnya percaya diri, terhadap kemungkinan diraihnya percaya diri, terhadap kemungkinan untuk ma uterus tumbuh. Klien tidak dipaksakan untuk mencapai sasaran khusus; melainkan klien memilih niali serta sasaran mereka sendiri.

B.     Unsur-unsur terapi
Pendekatan humanistik Rogers terhadap terapi person centered therapy membantu pasien untuk lebih menyadari dan menerima dirinya yang sejati dengan menciptakan kondisi-kondisi penerimaan dan penghargaan dalam hubungan terapeutik. Rogers berpendapat bahwa terapis tidak boleh memaksakan tujuan-tujuan atau nilai-nilai yang dimilikinya kepada pasien. Fokus dari terapi ini adalah pasien. Terapi adalah nondirektif, yakni pasien dan bukan terapis memimpin atau mengarahkan jalannya terapi. Terapis memantulkan perasaan-perasaan yang diungkapkan pasien untuk membantunya berhubungan dengan perasaan-perasaannya yang lebih dalam dan bagian-bagian dari dirinya yang tidak diakui karena tidak diterima oleh masyarakat. Untuk memahami dengan baik terapi person-centered, maka penting sekali kalau orang memahami istilah-istilah tertentu yang selalu digunakan Rogers.
Terapi person-centered bersandar pada asumsi bahwa setiap orang memiliki motif aktualisasi-diri. Motif ini didefinisikan sebagai kecenderungan yang lekat pada semua orang (dan pada semua organisme) untuk mengembangkan kapasitas-kapasitasnya dalam cara-caranya yang berfungsi untuk mempertahankan atau meningkatkan orang itu. Jika motif diasumsikan ini tidak ada, maka fokus terapi person-centered pada non-directive akan menjadi persoalan (patut diragukan). Rogers berpendapat bahwa seorang terapis tidak boleh membuat sugesti-sugesti atau penafsiran-penafsiran dalam terapi karena dalam pandangannya motif aktualisasi akan menuntun pasien dengan sangat baik. Jika motif ini tidak ada, maka tidak ada alasan bagi terapis untuk menjadi non-directive.

C.  Teknik terapi

1. Evolusi metode terpusat pada pribadi.
Pada saat pandangan psikoterapi Rogers berkembang maka fokus bergeser dari teknik terapeutik ke kualitas, kepercayaan dan sikap pribadi terapis dan diarahkan pada hubungan dengan klien. Dalam kerangka terpusat pada pribadi “tekniknya” adalah mendengarkan, menerima, menghormati, memahami dan berbagi. Bersikeras dengan penggunaan teknik dilihat sebagai hal yang menjadikan hubungan itu tidak memiliki sifat kepribadian lagi. Tekniknya haruslah ungkapan yang jujur dari terapinya; teknik-teknik itu tidak bisa digunakan berdasarkan kepuasan diri, oleh karena dengan demikian konselor itu tidak asli. Pada perkembangan selanjutnya pendekatan ini kurang berbicara mengenai larangan dan memberi kebebasan lebih besar pada konselor untuk lebih aktif berpartisipasi dalam hubungan itu. Perubahan ini mendorong digunakannya metode yang sangat beraneka ragam, dan bukan dengan metode tradisional seperti mendengarkan, mengenang, dan mengkomunikasikan kemauannya untuk mau mengerti. Menurut Combs (dalam Corey, 1995), pendekatan berpusat pada pribadi yang ada sekarang dipahami sebagai yang terutama untuk proses menolong klien bisa menemukan makna personal yang baru dan lebih memuaskan tentang dirinya sendiri dan dunia tempat ia tinggal.

2.  Kawasan aplikasi.
Pendekatan ini berguna bagi pelatihan para praktisi, oleh karena metodenya mengandung sifat-sifat penyelamatan yang sudah siap pakai. Ditekankan untuk tetap  bersama klien sebagai lawan dari mendahului mereka dengan intrepretasi-intrepretasi. Jadi pendekatan ini lebih aman dibandingkan dengan banyak model terapi yang menempatkan terapis dalam posisi si pemberi arahan dalam hal pemberian intrepretasi. Penentuan diagnosis, penelitian alam tidak sadar, penganalisisan mimpi, dan bekerja menuju ke berubahnya keprinadian yang lebih radikal. Bagi orang yang memiliki latar belakang yang terbatas dalam hal psikologi konseling, dinamika pribadi, dan psikopatologi, pendekatan ini memberinya kepastian bahwa klien yang dihadapi tidak akan mendapatkan bahaya secara psikologis.

Sumber:

Semiun, Yustinus. (2006). Kesehatan mental 1. Yogyakarta: KASINUS.

Corey, Gerald. (1995). Teori dan Praktek dari Konseling dan Psikoterapi. Edisi ke-4. Semarang: IKIP Semarang Press.



TERAPI HUMANISTIK-EKSISTENSIAL

II. TERAPI HUMANISTIK-EKSISTENSIAL


Tokoh dari humanistik eksistensial adalah Abraham Maslow yang terkenal dengan teori aktualisasi diri. Selain itu, ada tokoh lain dari humanistik eksistensial yaitu Carl Rogers yang dikenal dengan metode terapi yang dikembangkannya, yaitu terapi yang berpusat pada klien (Client-Centered Therapy). Dasar dari terapi humanistik eksistensial adalah penekanan keunikan setiap individu serta memusatkan perhatian pada kecenderungan alami dalam pertumbuhan dan perwujudan dirinya. Teori humanistik eksistensial berfokus pada diri manusia. Pendekatan humanistik eksistensial merupakan suatu pendekatan yang berusaha mengembalikan pribadi kepada fokus sentral, yakni memberikan gambaran tentang manusia pada tarafnya yang tertinggi.
     

A.    Konsep Utama Terapi Humanistik-Eksistensial :

1. Kesadaran Diri
Manusia memiliki kesanggupan untuk menyadari dirinya sendiri, suatu kesanggupan yang unik dan nyata yang memungkinkan manusia mampu berpikir dan memutuskan. Semakin kuat kesadaran diri seorang, maka akan semakin besar pula kebebasan yang ada pada orang itu. Kesadaran untuk memilih alternatif-alternatif yakni memutuskan secara bebas didalam kerangka pembatasnya adalah suatu aspek yang esensial pada manusia. Kebebasan memilih dan bertindak itu disertai tanggung jawab. Para ekstensialis menekan manusia bertanggung jawab atas keberadaan dan nasibnya.

2. Kebebasan, tanggung jawab, dan kecemasan
Kesadaran atas kebebasan dan tanggung jawab bisa menimbulkan kecemasan yang menjadi atribut dasar pada manusia. Kecemasan ekstensial bisa diakibatkan atas keterbatasannya dan atas kemungkinan yang tak terhindarkan untuk mati (nonbeing). Kesadaran atas kematian memiliki arti penting bagi kehidupan individu sekarang, sebab kesasaran tersebut menghadapkan individu pada kenyataan bahwa dia memiliki waktu yang terbatas untuk mengaktualkan potensi-potensinya. Dosa ekstensial yang juga merupakan bagian kondisi manusia. Adalah akibat dari kegagalan individu untuk benar-benar menjadi sesuatu sesuai dengan kemampuannya.

3. Penciptaan Makna
Manusia itu unik dalam arti bahwa ia berusaha untuk menentukan tujuan hidup dan menciptakan nilai-nilai yang akan memberikan makna bagi kehidupan. Menjadi manusia juga berarti menghadapi kesendirian (manusia lahir sendirian dan mati sendirian pula). Walaupun pada hakikatnya sendirian, manusia memiliki kebutuhan untuk berhubungan dengan sesamanya dalam suatu cara yang bermakna, sebab manusia adalah mahluk rasional. Kegagalan dalam menciptakan hubungan yang bermakna bisa menimbulkan kondisi-kondisi isolasi dipersonalisasi, alineasi, keterasingan, dan kesepian. Manusia juga berusaha untuk mengaktualkan diri yakni mengungkapkan potensi-potensi manusiawinya. Sampai tarap tertentu, jika tidak mampu mengaktualkan diri, ia bisa menajdi “sakit”.


B.     Fungsi dan Peran Terapis :

Tugas utama dari seorang terapis adalah berusaha memahami keberadaan klien dalam dunia yang dimilikinya. Tugas terapis diantaranya adalah membantu klien agar menyadari keberadaannya dalam dunia "ini adalah saat ketika pasien melihat dirinya sebagai orang yang terancam, yang hadir di dunia yang mengancamnya dan sebagai subyek yang memiliki dunia". Peran terapis sebagai "spesialis mata ketimbang sebagai pelukis", yang bertugas memperluas dan memperlebar lapangan visual pasien.

C.    Tujuan-tujuan Terapeutik :
  • Agar klien menyadari keberadaannya secara otentik dengan menjadi dasar atas keberadaan dan potensi-potensi serta sadar bahwa ia dapat membuka diri dan bertindak berdasarkan kemampuannya.
  • Meluaskan kesadaran diri klien dan meningkatkan kesanggupan terhadap pilihannya, yakni menjadi bebas dan bertanggung jawab atas arah hidupnya.
  • Membantu klien agar mampu menghadapi kecemasan sehubungan dengan tindakan memilih diri dan menerima kenyataan bahwa dirinya lebih dari sekedar korban kekuatan-kekuatan deterministik diluar dirinya.
D.    Teknik Terapi Humanistik Eksistensial :

Teori humanistik eksistensial tidak memiliki teknik-teknik yang ditentukan secara ketat. Prosedur-prosedur konseling bisa dipungut dari beberapa teori konseling lainnya, seperti teori Gestalt dan Analisis Transaksional. Tugas konselor disini adalah menyadarkan konseling bahwa ia masih ada di dunia ini dan hidupnya dapat bermakna apabila ia bisa memaknainya.

E.     Tahap-tahap Pelaksanaan Terapi Humanistik Eksistensial :
Pendekatan ini bisa menggunakan beberapa teknik dan konsep psikoanalitik dan juga bisa menggunakan teknik kognitif-behavioral. Metode ini berasal dari Gestalt dan analisis transaksional. Terdapat tiga tahap yang dapat dilakukan oleh terapis dalam terapi humaniatik eksistesial, antara lain:
  • Tahap pendahuluan
      Konselor mambantu klien dalam mengidentifikasi dan mnegklarifikasi asumsi mereka terhadap dunia. Klien diajak mendefinisikan cara pandang agar eksistensi mereka diterima. Konselor mengajarkan mereka bercemin pada eksistensial mereka dan meneliti peran mereka dalam hal penciptaan masalah dalam kehidupan mereka.
  • Tahap pertengahan
      Klien didorong agar bersemangat untuk lebih dalam meneliti sumber dan otoritas dan sistem mereka. Semangat ini akan memberikan klien pemahaman baru dan restrukturisasi nilai dan sikap mereka untuk mencapai kehidupan yang lebih baik dan dianggap pantas.
  • Tahap akhir
      Berfokus untuk bisa melaksanakan apa yang telah mereka pelajari tentang diri mereka. Klien didorong untuk mengaplikasikan nilai barunya dengan jalan yang kongkrit. Klien biasanya akan menemukan kekuatan untuk menjalani eksistensi kehidupannya yang memiliki tujuan. Dalam perspektif eksistensial, teknik sendiri dipandang alat untuk membuat klien sadar akan pilihan mereka, serta bertanggungjawab atas penggunaan kebebasan pribadinya.


Sumber :

Corey Gerald, 2009, Teori dan Praktek Konseling dan Psikoterapi, Bandung: PT Refika Aditama

Lubis, Lumongga Namora. (2011). Memahami Dasar-Dasar Konseling dalam Teori dan Praktik. Jakarta: Kencana Prenada Media Group


TERAPI PSIKOANALISA

I.  TERAPI PSIKOANALISA

A. Konsep Terapi

Sigmund Freud merupakan tokoh pendiri psikoanalisis atau disebut juga aliran psikologi dalam (depth psychology) ini secara skematis menggambarkan jiwa sebagai sebuah gunung es. Bagian yang muncul di permukaan air adalah bagian yang terkecil, yaitu puncak dari gunung es itu, yang dalam hal kejiwaan adalah bagian kesadaran (conscious-ness). Agak di bawah permukaan air adalah bagian yang disebutnya prakesadaran atau subconsciousness (preconsciousness). Ketidaksadaran ini berisi dorongan-dorongan yang ingin muncul ke permukaan atau ke kesadaran. Bagian yang terbesar dari gunung es itu berada di bawah permukaan air sama sekali dan dalam hal jiwa merupakan alam ketidaksadaran (unconscousness). Terapi Psikoanalisa adalah sebuah model perkembangan kepribadian, filsafat tentang sifat manusia dan metode psikoterapi

Konsep – konsep utama terapi psikoanalisis:
1. Struktur kepribadian
  • Id
  • Ego
  • super ego
2. Pandangan tentang sifat manusia
Pandangan freud tentang sifat manusia pada dasarnya pesimistik, deterministic,mekanistik dan reduksionistik
3. Kesadaran & Ketidaksadaran
a. Konsep ketidaksadaran
Contoh:
  • Mimpi → merupakan representative simbolik dari kebutuhan, hasrat dan konflik
  • Salah ucap / lupa → terhadap nama yg dikenal
  • Sugesti pascahipnotik
  • Bahan yg berasal dari teknik asosiasi bebas
  • Bahan yg berasal dari teknik proyektif
4. Kecemasan
Adalah suatu keadaan yg memotifasi kita untuk berbuat sesuatu. Berfungsi untuk memperingatkan adanya ancaman bahaya
   macam kecemasan:
  • Kecemasan realistis
  • Kecemasan neurotic
  • Kecemasan moral
B. Unsur-unsur terapi
  1. Muncul gangguan
Terapis berusaha memunculkan penyebab-penyebab yang menjadi akar permasalahan dari klien, untuk lebih mengenal karakteristik penyebab gangguan tersebut, kemudian terapis, memperkuat kondisi psikis dari diri klien, sehingga apabila klien mengalami gangguan yang serupa, diri klien akan lebih siap menghadapi dan mencari solusi dengan cepat
     2. Tujuan terapi
Terfokus kepada upaya penguatan diri klien, agar dikemudia hari apabila klien mengalami problem yang sama, maka klin akan lebih siap
    3. Peran terapis
Membantu klien dalam mencapai kesadaran diri, kejujuran, keefektifan  dalam melakukan hubungan personal dalam menangani kecemasan secara realistis, membangun hubungan kerja dengan klien, dengan banyak mendengar & menafsirkan, terapis memberikan perhatian khusus pada penolakan-penolakan klien, mendengarkan kesenjangan dan pertentangan pada cerita klien.

C. Teknik dasar dalam terapi psikoanalisa :
  1. Asosiasi bebas
Secara mendasar, tujuan teknik ini adalah untuk mengungkapkan pengalaman masa lalu dan menghentikan emosi-emosi yang berhubungan dengan pengalaman traumatik masa lampau.
Teknik asosiasi bebas ini dilakukan dengan klien berbaring di dipan dan terapis duduk di kursi sejajar dengan kepala klien, sehingga klien tidak melihat terapis.Dengan demikian, klien dapat mengungkapkan atau menyalurkan materi-materi yang ada dalam ketidaksadarannya secara bebas, terbuka, tidak menutup-nutupi tanpa harus malu, meskipun materi tesebut menyakitkan, tidak logis, atau tidak relevan.
Terapis harus mampu menjadi pendengar yang baik serta mendorong klien agar mampu mengungkapkan secara spontan setiap ingatan yang terlintas dalam pikirannya, pengalaman traumatik, mimpi, penolakan, dan pengalihan perasaannya.
  1. Interpretasi atau penafsiran
Adalah teknik yang digunakan oleh terapis untuk menganalisis asosiasi bebas, mimpi, resistensi, dan transferensi perasaan klien dengan tujuan utama untuk menemukan materi yang tidak disadari.Dengan demikian ego klien dapat mencerna materi tersebut melalui pemahaman baru dengan penuh kesadaran.
Dalam memberikan penafsiran, terapis harus hati-hati serta dapat memilih waktu dan kata-kata yang tepat agar klien tidak justru menjadi menutup diri atau mengembangkan pertahanan dirinya.
  1. Analisis Mimpi
Setiap mimpi memiliki isi yang bersifat manifes atau disadari dan juga bersifat laten (tersembunyi). Isi yang brsifat manifes adalah mimpi sebagai tampak pada diri orang yang mimpi, sedangkan isi yang bersifat laten terdiri dari motif-motif tersamar dari mimpi tersebut. Tujuan analisis mimpi adalah untuk mencari isi yang laten atau sesuatu yang ada dibalik isi yang manifes, untuk menemukan sumber-sumber konflik terdesak. Analisis mimpi hendaknya difokuskan kepada mimpi-mimpi yang sifatnya berulang-ulang, menakutkan, dan sudah pada taraf mengganggu.
  1. Analisis Resistensi
Resistensi merupakan suatu dinamika yang tidak disadari untuk mempertahankan kecemasan.Resistensi atau penolakan adalah keengganan klien untuk mengungkapkan materi ketidaksadaran yang mengancam dirinya, yang berarti ada perthanan diri terhadap kecemasan yang dialaminya.Apabila hal ini terjadi, maka sebenarnya merupakan kewajaran.Namun, yang penting bagi terapis adalah bagaimana pertahanan diri tersebut dapat diterobos sehingga dapat teramati, untuk selanjutnya dianalisis dan ditafsirkan, sehingga klien menyadari alasan timbulnya resistensi tersebut.
  1. Analisis Transferensi
Transferesnsi atau pengalihan adalah pergeseran arah yang tidak disadari kepada terapis dari orang-orang tertentu dalam masa silam klien.Pengalihan ini terkait dengan perasaan, sikap, dan khayalan klien, baik positif maupun negatif yang tidak terselesaikan pada masa silamnya.
Teknik analisis transferensi dilakukan dengan mengusahakan klien mampu mengembangkan transferensinya guna mengungkap kecemasan-kecemasan yang dialami pada masa kanak-kanaknya. Apabila transferensi ini tidak ditangani dengan baik, maka klien dapat menjadi bersikap menolak terhadap perlakuan terapis dan proses terapi dapat dirasakan sebagai suatu hukuman.

D. Tujuan terapi :
  • Mengungkapkan konflik-konflik yang dianggap mendasari munculnya ketakutan yang ekstrem dan reaksi menghindar yang menjadi karakteristik gangguan ini.
  • Membentuk kembali struktur karakter individu dengan membuat pasien sadar akan hal yang selama ini tidak disadarinya.
  • Focus pada upaya mengalami kembali pengalaman masa anak-anak.
E. Peran terapis :
  • Membantu pasien dalam mencapai kesadaran diri, kejujuran, keefektifan dalam melakukan hubungan personal dalam menangani kecemasan secara realistis.
  • Membangun hubungan kerja dengan pasien, dengan banyak mendengar & menafsirkan
  • Terapis memberikan perhatian khusus pada penolakan-penolakan pasien
  • Mendengarkan kesenjangan & pertentangan pada cerita pasien


Sumber :
Sunardi, Permanarian dan M. Assjari.(2008). Teori Konseling. Bandung: PLB FIP UPI.
Gunarsa, S.D. (1996). Konseling dan Psikoterapi. Jakarta : Gunung Mulia



Selasa, 31 Maret 2015

Tugas 2. Psikoterapi



A.    Perbedaan antara Psikoterapi dan Konseling

Psikoterapi dan komseling sekilas mempunyai kesamaan, namun sebenarnya psikoterapi dan konseling mempunyai perbedaan. Hal tersebut dikemukakan oleh beberapa tokoh dibawah ini:

Perbedaan pertama dikutip dari uraian Brammer & Shostrom (Gunarsa, Singgih. D, 1996) yang mengemukakan bahwa :
1.      Konseling ditandai oleh adanya terminology seperti: “educational, vocational, supportive, situational, problem solving, conscious awareness, normal, present-time, dan short-term”.
2.      Sedangkan psikoterapi ditandai oleh: “supportive (dalam keadaan krisis), reconstructive, depthemphasis, analytical, focus on the past neurotics and other severe emotional problems and longterm.”

Perbedaan kedua disimpulkan oleh Pallone dan Patterson yang dikutip oleh Thompson dan Rudolph (Gunarsa, Singgih. D, 1996) sebagai berikut :
Konseling untuk
Psikoterapi untuk
Klien
Pasien
Gangguan yang kurang serius
Gangguan yang serius
Masalah: (Jabatan, pendidikan, dll)
Masalah kepribadian dan pengambilan keputusan
Berhubungan dengan pencegahan
Berhubungan dengan penyembuhan
Lingkungan pendidikan dan non medis
Lingkungan medis
Berhubungan dengan kesadaran
Berhubungan dengan ketidaksadaran
Metode pendidikan
Metode penyembuhan

B.     Bentuk-bentuk utama dari terapi
Dalam psikoterapi hal yang paling umum dimengerti adalah kata terapi. Adapun Terapi atau pengobatan, adalah remediasi masalah kesehatan, biasanya mengikuti diagnosis. Orang yang melakukan terapi disebut sebagai terapis. Dalam bidang medis, kata terapi sinonim dengan kata pengobatan. Untuk lebih memperjelas seperti apa terapi tersebut, maka dibawah ini akan dibahas mengenai bentuk-bentuk utama dari terapi (Markam, S.L.S., Sumarmo, 2007), yaitu :
1.   Psikoterapi suportif bertujuan untuk memperkuat perilaku penyesuaian diri klien yang sudah baik, memberi dukungan psikologis dan menghindari diri dari usaha untuk menggali apa yang ada dalam alam bawah sadar klien. Alasan penghindaran karena kalau akan “dibongkar” ketidaksadarannya, klien ini mungkin akan menjadi lebih parah dalam penyesuaian dirinya. Psikoterapi suportif biasanya dilakukan untuk memberikan dukungan pada klien untuk tetap bertahan menghadapi kesulitannya.
2.    Psikoterapi reedukatif bertujuan untuk mengubah pikiran atau perasaan klien agar ia dapat berfungsi lebih efektif. Terapis mengajak klien atau pasien untuk mengkaji ulang keyakinan kilen, mendidik kembali agar ia dapat menyesuaikan diri lebih baik setelah mempunyai pemahaman yang baru atas persoalannya. Terapis tidak hanya membatasi diri membahas kesadaran saja, namun juga tidak terlalu menggali ketidaksadaran. Psikoterapi jenis reedukatif ini biasanya yang terjadi dalam konseling.
3.     Psikoterapi rekonstruktif bertujuan untuk mengubah seluruh kepribadian pasien/klien, dengan menggali ketidaksadaran klien, menganalisis mekanisme defensif yang patologis, member pemahaman akan adanya proses-proses tak sadar dan seterusnya. Psikoterapi jenis ini berkaitan dengan pendekatan psikoanalisis dan biasanya berlangsung intensif dalam waktu yang sangat lama.

Sumber:
Gunarsa, Singgih D. (1996). Konseling dan Psikoterapi. Jakarta : BPK Gunung Mulia
Markam, S.L.S., Sumarmo. (2007). Pengantar Psikologi Klinis. Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia

Kamis, 19 Maret 2015

Tugas 1 Psikoterapi



Tugas 1 Psikoterapi

A.    Pengertian Psikoterapi
Psikoterapi bertitiktolak dari suatu paham bahwa manusia pada hakikatnya bisa dan mungkin untuk dipengaruhi dan diubah melalui intervensi psikologik yang dilakukan atau direncanakan oleh orang lain. Psikoterapi dilihat secara etimologis mempunyai arti ya sederhana, yaitu “psyche” yang berarti “mind” atau jika disederhanakan berarti “jiwa”, dan “therapy” dari bahasa Yunani berarti “merawat” atau “mengasuh”,  sehingga psikoterapi dalam arti sempit adalah “perawatan terhadap aspek kejiwaan seseorang”.
Dibawah ini pengertian Psikoterapi menurut beberapa para ahli (dalam Singgih,Gunarsih, 1996) :

a.)    Watson & Morse.
Menurut Watson & Morse merumuskan psikoterapi sebagai bentuk khusus dari interaksi antara dua orang, yaitu pasien dan terapis, dimana pasien memulai interaksi karena ia mencari bantuan psikologik dan terapis menyusun interaksi dengan mempergunakan dasar psikologik untuk membantu pasien meningkatkan kemampuan mengendalikan diri dalam kehidupannya dengan mengubah pikiran, perasaan dan tindakannya.

b.)    Corsini.
Corsini merumuskan bahwa psikoterapi merupakan proses formal dari interaksi antara dua pihak, dimana setiap pihak bisa terdiri dari satu atau dua orang lebih, dengan tujuan memperbaiki keadaan distress pada salah satu dari kedua pihak karena malfungsi yang terjadi pada bidang fungsi kognitif dan fungsi afektif atau perilaku, dan ditangani oleh terapis yang mempunyai dasar teori dan profesi yang resmi.

Dari beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa psikoterapi adalah bentuk khusus dari interkasi formal, yang terdiri dari pasien dan terapis, dengan tujuan melakukan perawatan atau memperbaiki aspek kejiwaan dari fungsi kognitif dan afektif dengan menggunakan dasar psikologik yang dilakukan oleh terapis resmi.


B.     Tujuan dan Unsur-unsur Psikoterapi

Psikoterapi tentunya memiliki tujuan didalamnya. Adapun tujuan psikoterapi menurut Ivey,et al (dalam Singgih, Gunarsih, 1996) dirumuskan dengan pendekatan terapi realitas yaitu:
(1) untuk memenuhi kebutuhan seseorang tanpa dicampur-tangani orang lain;
(2) untuk menentukan keputusan yang bertanggung jawab dan untuk bertindak dengan menyadari sepenuhnya akan akibat-akibatnya.



Sedangkan menurut Corey (dalam Singgih, Gunarsih, 1996) merumuskanya dengan:
(1) untuk membantu seseorang agar lebih efektif dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhannya;
(2) merangsang untuk menilai apa yang sedang dilakukan dan memeriksa seberapa jauh tindakannya berhasil.

Unsur Psikoterapi

Dalam psikoterapi terdapat delapan “parameter pengaruh” dasar yang mencakup unsusr-unsur lazim yang dikemukakan oleh Masserman (dalam Maulany, 1997), yaitu :

  1.   Peranan Sosial (“Martabat”) psikoterapis
  2.   Hubungan (persekutuan terapeutik)
  3.   Hak
  4.  Retrospeksi
  5. Re-edukasi
  6.  rehabilitasi
  7. Resosialisasi
  8. Rekapitulasi


Sumber:
Singgih, Gunarsa. (1996). Konseling dan Psikoterapi. Jakarta: PT BPK Gunung Mulia.
Maulany, R.F (1997). Buku Saku psikiatri: Residen bagian psikiatri UCLA. Jakarta: Penerbit Buku kedokteran EGC